Ilustrasi bensin eceran. (Freepik.com)RUBRIKNEWS.id,BULUKUMBA- Kesulitan dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang berdampak pada padatnya antrean di berbagai SPBU di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan juga mengakibatkan harga BBM berupa pertalite di sejumlah pengecer melambung tinggi.
Harga pertalite eceran yang biasanya dijual Rp12 ribu perliter kini dijual seharga Rp 20 hingga Rp25 ribu perliter.
“Saya tidak masalah beli lebih mahal daripada mengantri berjam-jam. Ini saja sulit bisa dapat,” ujar Rahmat warga kecamatan Gantarang, Bulukumba, Senin 14 September 2026.
Dia mengakui sulitnya memperoleh BBM berpengaruh terhadap aktivitasnya sehari-hari, seperti mengantar anak ke sekolah, mengunjungi kerabat dan urusan pekerjaan di luar kantor.
Menurut Rahmat ada kekhawatiran jika lebih banyak menggunakan sepeda motornya di tengah sulitnya memperoleh BBM. Maka dari itu, beberapa hal dialihkan ke jasa ojek daring agar aktivitasnya tetap berjalan, kendati hal tersebut mengharuskannya mengeluarkan budget lebih besar atas fenomena antrean panjang pembelian BBM.
Irawati, seorang pedagang BBM eceran kecamatan Kajang mengakui harga BBM jenis pertalite yang dijajakannya meningkat drastis, lantaran besarnya upaya yang harus dilakukan untuk memperoleh produk energi tersebut.
Dia mengaku, harus menunggu di waktu dini hari untuk memperoleh BBM, mulai dari pukul 01.00 hingga 02.40 WITA. Waktu tersebut dipilih karena waktu antrenya terbilang lebih singkat dibanding siang hari yang bisa mencapai empat sampai lima jam.
Tingginya harga BBM jenis pertalite eceran saat ini masih terbilang bervareasi untuk di kota Bulukumba di jual Rp15 ribu perliter, dan di sejumlah desa di Bulukumba ada juga harga eceran tembus dari Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
Salah satunya Pertamini yang ada di Jalan Poros Desa Bontonyeleng mengatakan kalau sejak adanya kelangkaan BBM di Bulukumba daya beli warga di pertamini naik drastis bahkan pembeli juga ikut antri.
“Sudah beberapa hari ini memang stok bbm jenis pertalite di pertamini saya cepat habis karena pemilik kendaraan khususnya sepeda motor yang paling mendominasi.
Untuk harga penjualan, dia mengakui masi terbilang normal karena masih di jual dengan harga standar.
“Yang mahal botolan memang, tapi di pertamini harga masih normal seperti biasanya,” Tutupnya. ***