Ilustrasi wisata Appalarang desa Bira, kecamatan Bontobahari, kabupaten Bulukumba.(Foto-int)RUBRIKNEWS.id,BULUKUMBA- Desakan untuk memeriksa pengelola wisata Appalarang, kecamatan Bontobahari, kabupaten Bulukumba datang dari berbagai warga.
Warga meminta agar pengelola Appalarang ikut bertanggung jawab atas tenggelamnya seorang siswi SMA di lokasi wisata tersebut.
Anto, seorang warga Bulukumba meminta agar pengelolah Appalarang harus bertanggung jawab karena dinilai lalai dan tidak menyiapkan pasilitas pertolongan.
Harus menurut Anto sebagai bentuk antispasi peningkatan kunjungan wisatawan harusnya pengelola destinasi wisata melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia.
Mulai dari fasilitas umum, area pelayanan pengunjung, hingga sistem keamanan dan keselamatan harus dipastikan berfungsi dengan baik saat jumlah wisatawan meningkat
Karena itu, pengelola diminta memperhatikan berbagai aspek penting, antara lain:
Kesiapan sarana dan prasarana wisata.
Pengaturan dan manajemen pengunjung.
Mitigasi risiko dan penanganan keadaan darurat, penerapan standar keselamatan wisata, pengelolaan kebersihan dan sampah.
kesiapan sumber daya manusia, peningkatan kenyamanan wisatawan selama berada di destinasi.
Seorang siswi SMA bernama Elmi Febrianti (20), pengunjung asal Kelurahan Bontokamase, Kecamatan Herlang terjatuh tebing wisata Apparalang, Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Minggu 7 Juni 2026.
Insiden tersebut pertama kali beredar melalui siaran langsung di media sosial. Dalam siaran tersebut disebutkan bahwa korban merupakan seorang pelajar SMA di Kabupaten Bulukumba.
Korban diduga terjatuh setelah tergelincir saat berada di atas sebuah papan yang menjorok ke arah laut di kawasan tebing Apparalang.
Saat kejadian, korban disebut sedang mengambil gambar menggunakan telepon genggamnya. Namun, ombak yang cukup besar diduga menghantam lokasi tersebut hingga menyebabkan korban kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Peristiwa ini mengundang perhatian masyarakat dan warganet. Sejumlah komentar di media sosial menyebut korban merupakan siswi yang aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah.
Sampai pukul 23:00 wita Minggu malam 7 Juni 2026 warga bersama kerabat serta tim dari BPBD dan relawan masih melakukan pencairan di lokasi, dan belum menemukan beradaan korban.
Sementara itu pihak pengelola Destinasi Wisata Apparalang mengakui tidak ada upaya penyelamatan yang dilakukan
Pengelola beralasan kondisi perairan saat kejadian sedang ganas dengan arus dan ombak yang cukup besar sehingga tidak ada warga maupun petugas pengelola yang berani turun melakukan pertolongan.
Kepala Desa Ara, Amiruddin, yang juga merupakan pengelola Yayasan Perintis Wisata Apparalang Tinadung, mengatakan hingga saat ini korban belum ditemukan.
“Sampai sekarang korban belum ditemukan,” kata Amiruddin saat dikonfirmasi, Minggu malam, 7 Juni 2026.
Saat peristiwa terjadi, Amiruddin mengaku tidak berada di lokasi karena sedang berada di Kota Makassar.
Meski demikian, ia menjelaskan kondisi laut di kawasan Apparalang memang sedang tidak bersahabat. Menurutnya, pihak pengelola telah mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati melalui imbauan yang tercantum pada karcis masuk yang seharga Rp10 ribu/orang.
Dalam karcis tersebut juga disebutkan bahwa pengelola tidak bertanggung jawab atas kejadian yang tidak diinginkan yang dialami pengunjung.
Amiruddin mengakui tidak ada peralatan penyelamatan yang memadai di lokasi. Meski demikian, ia menyebut terdapat pelampung yang disediakan.
“Pelampung ada, tetapi saat kejadian tidak ada yang mengambil karena panik,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan tidak ada warga maupun pihak pengelola yang berupaya melakukan penyelamatan ketika korban masih terlihat berjuang di tengah ombak.***