Siswi Tewas Tenggelam, Sosiolog: Jangan Hakimi Perekam Tragedi Apparalang

Irwan
Irwan
8 Jun 2026 18:54
Daerah 0
2 menit membaca

RUBRIKNEWS.id,BULUKUMBA- Fenomena pengunjung yang merekam detik-detik perjuangan Elmi Febrianti (17) saat terseret ombak di kawasan wisata Apparalang memunculkan beragam reaksi di masyarakat.

Sosiolog sekaligus Dosen Pascasarjana IAIN Manado, Sulaiman Mappiasse, mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menghakimi orang-orang yang berada di lokasi kejadian.

Menurut doktor bidang Sosiologi lulusan University of Hawai at Manoa itu, tindakan merekam dan tindakan memberikan pertolongan harus dilihat sebagai dua hal yang berbeda.

“Kalau mereka merekam tanpa berusaha menolong secara langsung, bisa jadi mereka ingin menyampaikan kejadian itu kepada masyarakat melalui media online dengan harapan ada orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan,” kata Sualiman kepada Radar Selatan, Senin, 8 Juni 2026.

Ia menjelaskan, tidak semua orang memiliki kemampuan melakukan penyelamatan di medan berbahaya seperti laut. Banyak orang yang secara rasional mempertimbangkan risiko terhadap keselamatan dirinya sendiri sebelum bertindak.

Sualiman mencontohkan peristiwa serupa.di berbagai tempat, ketika orang yang spontan berusaha menolong korban tenggelam justru ikut menjadi korban karena tidak memiliki pengetahuan penyelamatan yang memadai.

“Kalau mereka tidak bisa berenang, tidak memiliki keahlian penyelamatan, bahkan tidak tahu harus menghubungi siapa untuk meminta bantuan, maka tindakan mereka merekam kejadian sambil mencari pertolongan bisa dimaklumi,” ujarnya.

Meski demikian, Sualiman menilai berbeda jika perekaman dilakukan semata-mata untuk dijadikan tontonan atau demi popularitas di media sosial.

“Kalau itu hanya untuk tontonan dan mempopulerkan akun media sosial, maka itu adalah tragedi moral yang perlu diratapi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa fenomena video viral tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia telah kehilangan empati.

Menurutnya, dalam banyak kasus kecelakaan maupun musibah di ruang publik, masih lebih banyak warga yang memberikan pertolongan dibanding hanya merekam kejadian.

“Kalau ada yang viral, itu sifatnya kasuistik. Tidak bisa digeneralisasi menggambarkan seluruh masyarakat kita,” katanya.

Sualiman justru menilai persoalan yang lebih mendasar dalam tragedi Apparalang adalah belum optimalnya sistem keselamatan di lokasi wisata yang berisiko tinggi.

Ia menegaskan pemerintah seharusnya memastikan setiap destinasi wisata memiliki petugas penyelamat yang siaga serta regulasi keselamatan yang jelas untuk melindungi pengunjung.

“Pertolongan di medan sulit seperti laut membutuhkan keahlian. Karena itu pemerintah harus hadir. Seharusnya ada regu penyelamat yang selalu siaga di tempat-tempat wisata berisiko,” tutupnya.****