Presiden Prabowo Subianto RUBRIKNEWS.id- Ancaman terhadap Bangsa dan Negara diklaim Presiden Prabowo Subianto bukan hanya bentuk fisik namun juga perang konvensional.
Menanggapi hal itu Prabowo meminta prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan dan kehidupan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menjadi Inspektur Upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur dikutip dari Tribun Solo, Rabu 7 Oktober 2026.
“Dunia sekarang menunjukkan penuh gejolak, penuh ketidakpastian. Kita tidak tahu kapan ancaman kepada kita menjadi nyata,” kata Prabowo.
Ia mengatakan, bentuk serangan terhadap Indonesia kini semakin beragam, termasuk melalui ruang siber dan penyebaran informasi palsu.
“Sekarang ancaman tidak hanya fisik, kita bisa diserang dan sudah mulai diserang melalui siber, disinformasi, melalui berita bohong yang selalu ingin Indonesia dipecah belah, selalu ingin Indonesia gaduh,” lanjutnya.
Menurut Prabowo, serangan tersebut juga dapat menyasar perekonomian Indonesia.
Selain itu, ia menyebut pencurian kekayaan bangsa serta penyelundupan narkotika ke dalam negeri sebagai bentuk ancaman yang perlu diwaspadai.
“Penyelundupan keluar kekayaan kita kalau dicuri adalah ancaman bagi kedaulatan kita. Penyelundupan ke dalam narkotika adalah ancaman bagi kelangsungan hidup bangsa kita,” tuturnya.
Prabowo menilai banyaknya bentuk ancaman tersebut membuat TNI harus terus menyesuaikan diri.
Ia meminta seluruh prajurit TNI tidak berhenti belajar dan berlatih agar mampu menghadapi kemungkinan ancaman terburuk.
Prabowo juga menekankan pentingnya membangun TNI sebagai kekuatan yang profesional, responsif, modern, inovatif, dan adaptif.
Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi semakin penting dalam memperkuat sistem pertahanan Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo turut menekankan agar sistem yang diterapkan di lingkungan TNI mengedepankan prestasi, bukan sekadar senioritas.
“Apalagi sistem-sistem yang sempit,” katanya.
Kepala negara juga meminta prajurit TNI menghindari loyalitas yang sempit, termasuk loyalitas berdasarkan angkatan.
Ia mendorong penguatan sinergi antara TNI dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga berbagai unsur masyarakat.
“Kekuatan dan kemampuan TNI harus dapat mempercepat program pemerintah menghadapi kesulitan yang dihadapi rakyat,” ujarnya.
Prabowo kemudian mengingatkan besarnya tanggung jawab pertahanan Indonesia karena wilayah Tanah Air yang sangat luas.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kawasan Eropa yang terdiri dari banyak negara dan memiliki angkatan bersenjata masing-masing.
“Di Eropa terdiri dari 30 negara lebih, mereka punya 30 angkatan perang, 30 AU, 30 AL, kita satu TNI. Tugas saudara berat tapi saya yakin saudara mampu,” tuturnya.***
Tidak ada komentar