Krisis Pasokan Air, Ratusan Hektar Sawah di Desa Bontosunggu Terancam Gagal Panen

Irwan
Irwan
23 Agu 2026 16:19
Daerah 0
2 menit membaca

RUBRIKNEWS.id,BULUKUMBA- Musim kemarau ekstrem mulai berdampak serius pada sektor pertanian di sejumlah wilayah di kabupaten Bulukumba Salah satunya, di Desa Bontosunggu, kecamatan Gantarang

Para petani di wilayah itu pun terpaksa merogoh kocek lebih dalam, untuk mengairi lahan sawah mereka demi menyelamatkan tanaman dari ancaman kekeringan. Guna menjaga kelangsungan hidup tanaman padi, petani mengandalkan mesin pompa air untuk menyedot air dari saluran irigasi yang juga pasokan airnya sudah sangat sedikit.

“Pasokan air juga dari irigasi sudah sangat tidak mencukupi, kalau kondisi ini berkepanjagan maka saya yakin ratusan hektar padi petani akan gagal panen,” Kata Callu salah kadus di desa Bontosunggu, minggu 23 Agustus 2026.

Menurut Callu, salah satu solusi yang harus dilakukan oleh pemerintah dan dinas terkait segera dibuka aliran air dari bendungan bayang-bayang.

Aliran air dari bendungan bayang-bayang adalah solusi petani tidak kekurangan air, apalagi tanaman padi milik petani saat ini sudah mulai proses mengeluarkan biji, kalau air ke tanaman kurang maka sudah di pastikan akan gagal panen.

“Saya selaku pemerintah dusun, sekaligus petani berharap pemerintah mulai desa, kabupaten, dinas terkait bisa segera mencarikan solusi, ” Harap Callu.

Basri, salah seorang anggota Kelompok Tani desa Bontosunggu mengungkapkan bahwa ketergantungan pada mesin pompa merupakan satu-satunya opsi tersisa.

Sayangnya, hal ini dibayangi oleh tingginya biaya operasional yang mencekik.

”Petani masih berupaya menyedot air menggunakan mesin pompa dari saluran irigasi.Kendala utamanya, ada pada biaya operasional untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solat ,” ujar Idan, Senin 20 Juli 2026.

Selain lonjakan biaya operasional, ancaman kerugian yang lebih besar kini membayangi. menurutnya ratusan hektar lahan petani dipastikan mengalami gagal panen total (puso).

Bukan hanya itu juga berpotensi mengalami penurunan produktivitas yang signifikan akibat krisis pasokan air. Petani pun berharap adanya intervensi mendesak dari pemerintah daerah berupa subsidi operasional. ***