Ketfo: Wakil ketua DPRD Bulukumba Syahruni Haris RUBRIKNEWS.id,BULUKUMBA- Peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momen refleksi bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua, dalam membentuk karakter generasi muda.
Wakil Ketua DPRD Bulukumba, Syahruni Haris, menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak berhenti pada aspek akademik, melainkan berpuncak pada pembentukan etika dan perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keluarga merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak, sehingga peran orang tua sangat menentukan arah perkembangan karakter mereka.
“Pendidikan itu bukan hanya soal nilai di sekolah. Puncak dari pendidikan adalah etika. Bagaimana anak bersikap, menghargai orang lain, dan mampu membedakan yang baik dan buruk, itu semua dimulai dari rumah,” ujar Syahruni, Sabtu 2 Mei 2026.
Ia mengajak para orang tua agar lebih proaktif dalam mendidik sekaligus mengawasi anak-anaknya, terutama di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat.
Menurutnya, kurangnya perhatian dan pengawasan dapat membuka ruang bagi munculnya berbagai perilaku negatif, seperti perundungan (bullying), kenakalan remaja, hingga tindakan menyimpang lainnya yang berdampak pada masalah hukum, belakangan banyak terjadi di kabupaten Bulukumba.
“Orang tua tidak boleh lepas tangan. Anak-anak kita hari ini hidup di era yang penuh tantangan. Kalau tidak diawasi dan dibimbing, mereka bisa terpengaruh hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegasnya.
Syahruni Haris juga menyoroti pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga sebagai kunci mencegah perilaku menyimpang pada anak.
Ia menilai, kedekatan emosional antara orang tua dan anak dapat menjadi benteng utama dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan.
“Bangun komunikasi yang baik dengan anak. Jadilah tempat mereka bercerita, bukan hanya memberi perintah. Dengan begitu, kita bisa lebih mudah mengarahkan mereka ke hal-hal positif,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pendidikan formal di sekolah.
Menurutnya, sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi faktor penting dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.
“Sekolah mengajarkan ilmu, tapi keluarga membentuk karakter. Kalau dua ini berjalan seimbang, maka kita akan melahirkan generasi yang kuat, cerdas, dan beretika,” ujarnya.
Dalam momentum Hardiknas ini, Syahruni Haris berharap masyarakat semakin sadar bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari sikap dan perilaku generasi muda.
“Kalau anak-anak kita pintar tapi tidak punya etika, itu bukan keberhasilan pendidikan. Justru sebaliknya, pendidikan harus melahirkan manusia yang berilmu dan berakhlak,” pungkasnya.***